Kelas “How to Read a Book”: Membenahi Gaya Membaca Untuk Mengatasi ‘Doctoral Ignorance’

Pesantren Mahasiswa Bentala Insan Adabi (PEMBINA) dan Perpustakaan Baitul Hikmah bekerjasama menyelenggarakan Kelas Intensif How to Read a Book (HTRAB), 19-20 Februari 2022. Acara yang diikuti 20 peserta ini dilaksanakan di Perpustakaan Baitul Hikmah, Universitas Gadjah Mada. Founder Toko Buku Lubukata Bandar Lampung, Yogi Theo Rinaldi, menjadi pengampu pada kelas ini.

Kelas ini membahas buku How to Read a Book karya Mortimer J. Adler. Latar belakang penyusunan buku ini, yang juga merupakan latar belakang penyelenggaraan acara, adalah untuk mencegah ‘Doctoral Ignorance.Doctoral Ignorance merupakan suatu fenomena di mana seseorang banyak membaca namun keliru dalam memahami.

Yogi mengawali kelas dengan memaparkan kondisi literasi dan gerakan membaca dalam konteks Pendidikan. Ia menjelaskan sejarah dan tantangan literasi dan gerakan membaca, lalu tujuan dan tingkatan dalam membaca.

Adler membagi empat level dalam membaca, yaitu elementary reading, inspectional reading, analytical reading, dan syntopical reading. Level pertama merupakan taraf seseorang mampu membaca susunan aksara. Kemampuan ini secara umum diperoleh masyarakat kala belajar di jenjang sekolah dasar.

Level membaca yang kedua, inspectional reading, adalah membaca buku secara utuh, dan dapat disebut dengan membaca cepat. Pada taraf ini, seorang pembaca dituntut untuk menangkap gambaran umum isi buku secara keseluruhan. Tujuannya adalah untuk menentukan apakah suatu buku perlu dibaca secara analytical, yakni di tahap ketiga.

Selanjutnya adalah analytical reading, yang berarti membaca buku dengan rinci sehingga pembaca mampu menginterpretasikan atau bahkan mengkritisi isi buku.
Tingkatan membaca yang terakhir adalah syntopical reading. Pembacaan di tahap ini melibatkan beberapa buku dengan subjek yang sama secara analytical. Syntopical reading juga dapat disebut membaca secara paralel.

Pada sesi syntopical reading, Yogi menjelaskan apa itu ide-ide besar. Sesuatu disebut ide-ide besar jika kandungannya abadi/everlasting.

Gagasan-gagasan inilah yang menjadi patokan buku apa saja yang akan dibaca oleh seseorang. Dengan membaca hanya buku-buku bermutu, ia tidak perlu melahap bahan bacaan yang banyak.

Memasuki sesi keenam, para peserta diminta mempresentasikan buku yang telah mereka pilih dan baca sendiri, secara inspectional.

Para peserta yang mayoritas terdiri dari mahasiswa dapat meningkatkan kualitas membacanya. Selain itu, mereka juga dituntut mampu memilah mana yang perlu dibaca dan mana yang tidak.

Penulis: Achmad Resa / Editor: Ismail Al-‘Alam

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.